Showing posts with label habitat. Show all posts
Showing posts with label habitat. Show all posts

Monday, July 22, 2013

Perlukah Murai Batu Mandi?

Kebiasaan mandi biasanya hanya melekat dan menjadi rutinitas yang dibutuhkan oleh manusia. Karena, selain untuk menghilangkan kotoran mandi juga bermanfaat untuk menyegarkan tubuh. Hidup tanpa mandi sungguh tidak nyaman. Lalu, bagaimana dengan Murai Batu? Apakah unggas ini juga membutuhkan rutinitas mandi sebagaimana halnya manusia?

Kebiasaan Mandi Murai Batu di Habitat Alaminya

Murai Batu merupakan salah satu jenis unggas yang berdarah panas. Artinya Murai Batu ini merupakan jenis hewan yang bisa menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu lingkungan. Sehingga, bersentuhan dengan air bukan sesuatu yang berbahaya atau ditakuti oleh burung Murai Batu.

Di habitat aslinya (di alam) Murai Batu diketahui bahwa mandi merupakan ritual wajib bagi sebagian besar Murai Batu. Itulah mengapa Murai Batu senang memilih Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai habitatnya. Hal ini sangat berkaitan erat dengan kebutuhan Murai Batu akan ketersediaan air untuk rutinitas ritual mandinya.

Manfaat Mandi Bagi Murai Batu

Nah, apakah rutinitas mandi bermanfaat bagi Murai Batu? Sebagaimana halnya pada manusia, rutinitas ritual mandi pada Murai Batu juga memberikan manfaat bagi burung ini. Adapun manfaat mandi bagi Murai Batu yaitu:

  1. Membersihkan kotoran yang melekat pada tubuh atau bulu-bulunya.
  2. Menjaga stabilitas suhu tubuh.
  3. Menjaga kesegaran tubuh.

Kapan Sebaiknya Murai Batu Mandi?

Di habitat aslinya, ritual mandi pada sebagian besar jenis burung termasuk Murai Batu ini adalah pada pagi hari. Pagi hari menjelang matahari naik adalah saat yang tepat untuk Murai Batu melaksanakan ritual mandinya. Karena, setelah mandi biasanya Murai Batu membutuhkan cahaya matahari untuk berjemur dan mengeringkan bulu-bulunya yang basah. Sinar matahari pagi juga sangat bermanfaat bagi Murai Batu untuk kesehatan tubuhnya.

Namun, mandi pada pagi hari bukan menjadi sesuatu yang mutlak bagi Murai Batu. Ada kalanya juga Murai Batu melakukan ritual mandi di siang dan sore hari sesuai dengan kebutuhannya. Beberapa hal yang menyebabkan pola mandi Murai Batu berubah diantaranya yaitu:

  • Musim kawin
  • Setelah Murai Batu mengkonsumsi makanan yang dapat meningkatkan suhu tubuh
  • Dan lain-lain

Untuk mengetahui kapan Murai Batu membutuhkan mandi, Anda bisa memperhatikan gerak gerik atau bahasa tubuhnya. Gerak-gerik atau bahasa tubuh Murai Batu yang sedang membutuhkan mandi diantaranya:

  • Memekarkan bulu-bulunya, terutama di bagian kepala dan dada sambil menggoyang-goyangkan badan seperti sedang berusaha untuk membersihkan kotoran dari tubuhnya.
  • Mematuk-matuk tempat air minumnya, tapi bukan untuk minum. Tapi untuk memercikkan air yang ada dalam mangkuk tersebut ke tubuhnya.

Waktu-waktu yang Membuat Murai Batu Menghindari Mandi

Selain itu diketahui juga, ternyata Murai Batu juga menghindari ritual mandi dalam kondisi tertentu, seperti: masa awal kerontokan bulu dan di musim hujan. Waktu-waktu tersebut biasanya Murai batu lebih cenderung menghindari ritual mandi.

Oleh: Neti Suriana
Referensi: www.muraibatuaceh.blogspot.com

Tuesday, May 21, 2013

Larwo, Jenis Murai Batu Langka



Larwo adalah sebutan untuk murai batu jawa. Nama ini khusus diberikan untuk jenis murai batu jawa tersebut sehingga menjadi keunikan tersendiri bagi jenis murai batu satu ini. Banyak yang beranggapan bahwa larwo bukanlah termasuk murai batu, namun menurut ahli burung kicauan burung larwo masih termasuk jenis burung murai batu dan satu keluarga Turdidae yang khususnya memiliki suara yang indah dan kicauan yang sangat bagus seperti murai-murai batu lainnya. Yang dari tempat habitatnya jangan dicari-cari selain di pulau jawa karena habitat tempat hidupnya hanya akan dijumpai di pulau jawa sehingga menjadi keunggulan bagi murai batu jawa yang disebut Larwo dari jenis-jenis murai batu lainnya yang mungkin bisa dijumpai di banyak daerah. Dan di jawa tinggalnya dapat dijumpai di alam bebas yakni dari Ujung Kulon sampai dengan Gunung Kidul dan beberapa tempat lainnya.

Ciri-ciri fisiknya

Larwo atau sebutan khas burung murai batu jawa memiliki ciri-ciri fisik yang mempunyai perbedaan dengan murai batu pada umumnya diketahui. Sekilas jika dari kasat mata dilihat warnanya dari murai batu sumatera dan kalimantan tidak ada perbedaannya, namun diperhatikan lebih rinci lagi perbedaan serius dapat dilihat dengan membandingkan ukuran tubuhnya. Larwo mempunyai ukuran tubuh yang jauh lebih kecil bila disandingkan dengan murai batu sumatera dan kalimantan. Yang lainnya juga dapat menjadi pembeda dari performa ketika berkicaunya larwo, adalah bulu-bulu di kepalanya akan berdiri seperti jambul. Dan bulu dadanya berwarna hitam yang melebar hingga pangkal pahanya. Dan panjang ekornya lebih kurang dari 8-10 cm saja. Melirik suaranya, Larwo mempunyai suara yang kurang bagus dari murai-murai batu lainnya dan variasi suara yang masih sedikit. Serta makanannya sama dengan murai batu umumnya yakni kroto, ulat, dan belalang.

Melihat sejarahnya dahulu, murai batu jawa atau larwo sebutan akrabnya merupakan burung ocehan yang banyak digemari burung ‘jadul’ di jawa ketika murai batu dari jenis sumatera dan kalimantan belum membanjiri pasar burung ocehan di jawa. Namun sekarang kebalikan itu terjadi menimpa burung murai batu jawa ini, kelangkaan yang sudah mulai dirasakan oleh pecinta burung terhadap sulitnya sudah ditemukan burung ini di peredaran baik di penangkaran burung murai batu, di pasar burung ocehan, maupun di alamnya sendiri yakni hutan dan pegunungan. Sehingga intensitas kepunahan mulai dirasakan murai batu jawa dalam pelestarian yang sangat diperlukan.

Habitat yang hanya bisa dijumpai di pulau jawa merupakan kesulitan yang harus diterima karena padatnya penduduk yang sudah menghuni pulau jawa dari Banten sampai Jawa Timur sehingga hutan yang gundul menjadi penyebab burung ini tidak mendapatkan rumahnya di alam liar. Perlu diharapkan dari pelestarian burung ini oleh penangkar burung ocehan ataupun pecinta burung murai batu dalam tetap membudidayakan burung yang habitatnya sudah tidak nyaman lagi dari semestinya dulu yang masih indah. Sehingga pula juga dari sekitar tujuh jenis murai batu dapat tetap ada keberadaannya dari menghindari kepunahan yang di ambang pintu dari bersama melestarikan dalam penangkaran dan melepaskan beberapa ke habitat aslinya di samping juga bisa efektif untuk bisnis.

Oleh : Satria Dwi Saputro
Sumber:
Rachmanto, Penangkaran Burung Murai Batu. Yogyakarta, Kanisius, 2003.
http://omkicau.com/2012/11/19/burung-larwo-riwayatmu-kini/
http://birdacholic.blogspot.com/2012/07/habitat-murai-batu.html

Wednesday, May 8, 2013

Perlunya Melestarikan Burung Murai Batu

Burung Murai Batu adalah burung hias yang berbeda dari burung-burung biasanya. Keunikan burung ini tidak diragukan lagi mulai dari bentuk tubuhnya, alunan suaranya, dan caranya beradaptasi kepada manusia yang cukup mudah. Jenisnya pun beragam, untuk murai batu saja mempunyai jenis yang mencapai enam jenis, yakni Murai Batu Borneo (Kalimantan), Murai Batu Aceh, Murai Batu Lampung, Murai Batu Lahat, Murai Batu Nias, Murai Batu Medan. Begitu juga dengan jenis burung yang lain mencapai ribuan jenisnya. Dari banyaknya jenis murai batu yang mencapai enam jenis, tidaklah semuanya mendapat cerita yang manis-manis saja. Timbulnya kelangkaan terhadap jumlah mereka yang menipis di lingkungan liar baik di hutan maupun di pegunungan salah satunya ialah rusaknya ekosistemnya. Maraknya illegal logging penyebab pasti burung murai dari jenis-jenis ini dapat saja menghilang wujudnya yang hanya menyisakan sejarah di samping ada penyebab lain seperti perburuan liar karena menggiurkannya harga yang terbilang mahal untuk satuan ekornya.

Untuk burung murai batu yang sering beredar di pasaran sangatlah banyak dari pada di habitat aslinya yakni di hutan, ketidakseimbangan ini jika dibiarkan akan merusak lajur ekosistem yang sudah terjadi di hutan. Mulai langkanya keberadaan di hutan menjadikan beberapa jenis murai batu memilih bermigrasi dari satu tempat ke tempat yang lain untuk tetap bisa bertahan hidup dari gangguan tangan jahil. Dari sini diperlukannya uluran tangan dari pecinta burung maupun pecinta lingkungan untuk dapat menstabilkan kelangsungan hidup spesies ini.

Bersama dengan membuat sebuah penangkaran bagi burung murai batu dapat sebenarnya menyelamatkan kepunahan mereka dari rusaknya habitat mereka. Dari hadirnya penangkaran untuk menampung dan menghidupkan pelestarian mereka akan segera menambah populasi mereka sesuai yang diharapkan di samping hanya menjadi hewan yang diperlombakan tanpa bisa mengembangbiakkan mereka. Memang ini sangat sulit, mengingat harga tiap ekornya rata-rata di atas satu jutaan menggiurkan untuk memperdagangkannya di pasar-pasar.

Peran Peternak

Di samping cara di atas dengan melalui swadaya untuk membuka penangkaran bagi pengembang biakan burung murai batu, selain itu peran peternak pun menjadi penting dalam tetap pelestarian burung murai batu. Hadirnya peternak sebenarnya dapat mengembangbiakkan burung murai daripada memburu mereka di hutan, dengan sistem ternak akan menambah tingkat populasi burung murai dari kepiawaian sang peternak. Keberhasilan dari menernak burung murai, sangat menguntungkan sejatinya karena mulai dari yang masih kecil hingga dewasa dapat untuk diperjualbelikan. Kelangsungan yang seimbang ini di samping hanya diperjualbelikan oleh peternak dapat juga membebaskan beberapa dari mereka ke habitat aslinya supaya menghadirkan keaslian hutan akan makhluk huniannya.

Karena bersama peran dari manusia adalah menjaga keseimbangan lingkungan makhluk hidup untuk dapat saling menikmati dari tetap adanya burung murai batu yang merdu suaranya mengalun di tengah hutan dan dapat menjadi burung kebanggaan nasional dari keeksotisannya.

Oleh : Satria Dwi Saputro

Friday, April 26, 2013

KENALI JENIS – JENIS BURUNG MURAI BATU YUK !

Burung murai termasuk salah satu burung yang cocok jadi hewan peliharaan. Sudah banyak yang tahu bahwa spesies yang bernama latin Copychus malabaricus adalah anggota keluarga Turdidae. Burung keluarga Turdidae dikenal memiliki kemampuan berkicau yang baik dengan suara merdu, bermelodi, dan sangat bervariasi. Maka tak heran bila burung yang satu ini adalah salah satu burung kebanggaan untuk di pelihara di rumah. Well, kita kenalan dulu siapa sebenarnya burung ini lebih dalam .



Scientific classification
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Aves
Order : Passeriformes
Family : Muscicapidae
Genus : Copsychus
Species : C. malabaricus
Binomial name : Copsychus malabaricus
Synonyms : Kittacincla macrura dan Cittocincla macrura

Murai Batu Berdasarkan habitatnya dapat digolongkan menjadi beberapa:

  1. Murai Batu Medan

    Ciri-ciri ekor tipis-lentur melengkung ke bawah, panjang 27- 30 cm. Variasi lagu kicauan indah & banyak, daya tempur dahsyat, mental baja dengan volume dan variasi suara di atas rata-rata. Harga bakalannya paling mahal. Burung asal dari Peg. Leuser, Bahorok masih tetap diburu oleh pecinta murai dari segala kalangan. Ternyata bukan hanya penduduk Sumatra Utara saja yang bersuara merdu , burung murai asal Medan juga lho.

  2. Murai Batu Nias.

    Ciri yang utama adalah pada bagian ekornya hitam semua, tidak ada bulu ekor warna putih dan mempunyai volume yang keras. Sering terlihat di Kepulauan Nias, Sabang. Lucunya burung yang satu ini suka minder kalau melawan burung murai berekor hitam-putih. Padahal mental untuk bertarungnya sangat kuat loh. Hitam saja juga sudah keren kok, keep singing Murai Nias

  3. Murai Batu Lahat

    Mempunyai panjang ekor 19 - 23 cm. ekornya ada tipis dan tebal. variasi suara yang banyak. Mental Bagus. Disinyalir Murai Batu yang beredar sekarang di pasar burung kebanyakan adalah murai batu lahat.

  4. Murai Batu Lampung

    Mempunyai ekor pendek 12 - 18 cm dan umumnya kaku. Mempunyai daya tempur yang bagus. Jika perawatannya benar mentalnya bisa sangat bagus. Variasi suara dasar cenderung ngeban (mengulang-ulang suara yang sama), perlu pemasteran yang baik untuk menutupi kelemahannya. Kelebihan yang menonjol saat bertanding, mempunyai stamina yang baik ( tidak mudah lelah) dalam melantunkan lagu-lagu ngerol, tonjolan (besetan) dalam waktu lama. Gaya bertarungnya tidak seindah murai batu ekor panjang yang bisa men "cambuk" ekornya. Tapi harganya kalau sudah sering menang kontes tidak kalah dengan Murai Batu lainnya. Habitatnya di sekitar hutan lampung, Baturaja hingga ke arah Palembang

  5. Murai Batu Aceh

    Mempunyai ekor panjang 19 - 29 cm. Bentuk fisik tidak terlalu besar. Mempunyai daya tempur yang dahsyat. Variasi suara banyak , panjang- panjang dan ngeroll diselingi dengan suara tembakan/besetan yang menyayat hati. angse (Piedie), peg. Seulawahsabang ,Lhoong (kab. Aceh Besar) dan Keude Bieng yang merupakan tempat Murai Batu diperoleh.

  6. Murai Batu Borneo (Kalimantan)

    Panjang ekor 8 - 13 cm. Ciri khasnya saat bertarung dengan murai lain dadanya membusung/menggelembung. Mempunyai sifat yang lebih agresif dan terkesan ngotot. Kicauannya cenderung "ngeban" ( mengulang) dan suaranya agak "mendem" (kurang kristal). Di lapangan kontes, kelas tersendiri tidak menyatu dengan Murai batu Sumatra.

Semakin bagus suara burung murai ini maka harga jualnya pun semakin tinggi. Namun perlu disayangkan populasi burung murai di alam bebas atau habitat aslinya menjadi berkurang dikarenakan lebih diutamakan sebagai barang jual beli. Kasihan sih jadi tidak bisa sebebas seharusnya, Namun untuk pecinta burung pasti mereka bisa merawatnya dengan baik

Oleh : Alfiani Ratnaningtyas