Showing posts with label ekor. Show all posts
Showing posts with label ekor. Show all posts

Wednesday, July 31, 2013

Tips Saat Membeli Murai Batu



Setiap orang pasti menginginkan barang yang bagus, berkualitas, dengan harga yang sesuai ketika membeli apapun itu. Sama halnya ketika anda membeli Murai Batu, pasti anda mengharapkan Murai Batu yang anda beli adalah Murai Batu yang handal, memiliki kicauan merdu dan bisa menjadi juara saat mengikuti perlombaan. Namun, banyak orang yang tidak mengetahui apa-apa saja yang harus diperhatikan saat membeli Murai Batu, sehingga banyak juga yang merasa tertipu, kecewa, ketika Murai Batu yang dibeli menampakkan sifat aslinya entah itu kondisi tubuh yang tidak baik, kecacatan fisik, tidak gacor dan segala macamnya. Tingginya harga Murai Batu di pasaran juga menjadi faktor pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengelabui para pembeli. Dengan berbagai cara dilakukan agar pembeli tertarik dan membeli Murai Batu yang dijual dengan harga tinggi. Berdasarkan hal itu, artikel kali ini akan memaparkan point-point penting apa saja yang harus anda perhatikan di saat ingin membeli Murai Batu, agar anda mendapatkan Murai Batu berkualitas baik :

  • Lihat, bagian ekor Murai Batu
    Tak jarang kejadian Murai Batu yang dijual memiliki ekor tiruan. Bisa jadi Murai Batu yang dijual tersebut memiliki ukuran ekor yang pendek, bisa karena rusak atau rontok namun untuk tetap menarik minat pembeli, ekor yang pendek tersebut disambung ‘lem’ dengan ekor panjang. Jika tidak teliti bisa saja anda akan mengalami hal itu, nah sebagai antisipasi ketika membeli sentuh dan periksalah bagian ekornya, untuk memastikan apakah ekor Murai Batu tersebut benar-benar asli atau tidak.

  • Periksa, bagian Mulutnya
    Segala cara dilakukan pemburu dalam mendapatkan Murai Batu liar, salah satunya dengan cara ‘pancingan’ yaitu penjebakan Murai Batu dengan pemberian umpan yang ditaruh pada alat pancing. Murai Batu yang memakan umpan tersebut akan terkena pancing pada bagian lidahnya dan tak dapat berbuat apa-apa. Nah, penangkapan dengan cara ini sangat membahayakan bagi Murai Batu, selain membuat Murai Batu sulit untuk makan, juga menyulitkan dalam hal berkicau. Bagi anda yang ingin membeli Murai Batu jangan mau membeli Murai Batu hasil ‘pancingan’ meskipun dijual dengan harga murah, sebab masa bertahan hidupnya biasanya tidak bertahan lama. Cara mengetahui Murai Batu hasil ‘Pancingan’ adalah dengan melihat di bagian lidah dan tenggorokannya jika terdapat luka berdarah atau goresan maka Murai Batu tersebut didapat dari hasil ‘Pancingan’.

  • Cek kondisi kesehatannya
    Belilah Murai Batu yang dalam kondisi sehat. Perhatikan tingkah lakunya dalam sangkar sebelum anda membeli apakah gerak-geriknya menunjukkan kesehatan fisiknya atau tidak. Murai Batu yang sehat juga tidak akan berdiam saja dalam sangkar, jika anda masih ragu pegang Murai Batu tersebut untuk anda pastikan suhu tubuhnya, apabila menunjukkan suhu yang panas sebaiknya untuk saat itu anda tahan dulu niat membeli, atau pilih Murai Batu lainnya yang memiliki suhu tubuh yang normal. Jangan membeli burung Murai Batu yang sakit, sekalipun menderita gejala sakit ringan karena itu juga tetap beresiko, apabila jika anda belum terlalu paham dalam hal merawatnya.

  • Perhatikan gerak-gerik Penjual jika berada di dekat andaDirasa perlu untuk melakukan hal ini, karena penjual ada juga yang suka mengelabui pembeli dengan mengeluarkan semacam ‘bersiul’suara kicauan, seakan-akan Murai Batu yang anda lihatlah yang mengeluarkan kicauan tersebut padahal suara kicauan itu berasal dari dirinya.

Banyak cara di luar sana yang dilakukan pihak-pihak tertentu dalam memperoleh keuntungan sepihak. Pastinya ada sebagai pembeli juga tidak menginginkan adanya kerugian-kerugian yang anda terima dari barang yang anda beli, baik itu Murai Batu. Ketelitian dalam membeli merupakan faktor terpenting untuk menghindari dari hal-hal yang tidak kita inginkan. Mudah-mudahan artikel di atas bisa membantu anda mendapatkan burung Murai Batu yang anda inginkan. Terima kasih.

Oleh : Roma Doni
Referensi : http://blog-muraibatu.blogspot.com/2013/02/waspada-pada-saat-akan-membeli-murai.html
Sumber Photo : Google.com

Friday, July 26, 2013

Cara Mengatasi Murai Batu yang Mematuki Bulu Sendiri



Bagi pecinta Murai Batu pasti pernah mengetahui kondisi seperti ini, yaitu di mana Murai Batu melakukan perilaku yang mengakibatkan kerusakan pada bagian bulu sayap, perut, paha dan ekor karena dipatuki sendiri. Keadaan seperti itu memang kerap kali terjadi pada Murai Batu, karena adakalanya Murai Batu mengalami kondisi yang tidak stabil sehingga menyebabkan stres pada Murai Batu, dan biasanya cara melampiaskan stresnya adalah dengan mematuki bulunya sendiri. Kefatalan yang dapat terjadi akibat perilaku buruk ini ialah kecacatan fisik yang akan diderita Murai Batu. Patukan-patukan yang mengenai tubuhnya berpotensi menimbulkan kerontokan bulu dan luka pada bagian tubuh sehingga jika dilihat burung Murai Batu akan tampak jelek. Sudah barang tentu meskipun burung Murai Batu tersebut memiliki kicauan yang merdu apabila tidak didukung dengan penampilan dari segi fisik yang baik pasti terlihat tidak proporsional, dari segi harga jual juga akan menurun.

Kebiasaan Murai Batu tersebut mematuki bulunya sendiri disebabkan oleh beberapa faktor :

  • Pemberian pakan burung yang salah

    Pemberian pakan yang tidak sesuai takaran baik dari segi jumlah ataupun jenis membuat Murai Batu gampang mengalami birahi yang tinggi. Sebenarnya bagus apabila Murai Batu cepat mencapai birahi, karena otomatis meningkatkan gairah bertarungnya dalam perlombaan, namun apabila kenaikan birahi di saat tidak dalam keadaan lomba, maka burung Murai Batu akan mengalami over birahi akibat tidak adanya lawan ketika kondisi sedang naik. Nah, keadaan seperti itu dapat menyebabkan Murai Batu mematuki bulunya sendiri sebagai bentuk dari pelampiasan jiwa betarungnya.

  • Ketertekanan jiwa Murai Batu

    Yaitu adanya ketidakstabilan Mental Murai Batu disebabkan lawan yang terlalu tangguh. Murai Batu yang berusia muda masih memiliki mental tarung yang belum sempurna, sehingga apabila dipaksakan untuk mengikuti lomba atau disandingkan dengan Murai Batu yang sudah memiliki kicauan yang terlatih pasti mental jiwa akan tergolak. Hal itu akan membuat Murai Batu merasa tertekan, ketertekanan itu dapat diketahui dengan melihat tingkah lakunya yang tidak menentu lagi, salah satunya dengan mematuki bulunya sendiri.

Cara yang dapat anda ambil sebagai usaha untuk menanggulangi kebiasaan buruk tersebut adalah :

  • Mengatur pola setingan penempatan sangkar dan pakannya

    Pemberian pakan yang teratur, misal pemberian pakan jangkrik seimbang : 2 ekor di pagi hari dan 2 ekor di sore hari. Pengaturan ini dapat mengatur tingkat birahi Murai Batu menjadi baik, selain itu penempatan sangkar yang sesuai dengan usia Murai Batu juga berdampak demikian.Seperti menjauhkan dari binatang-binatang pengganggu : kucing, ayam atau juga burung Murai Batu yang terlalu tangguh di saat usia Murai Batu yang dipelihara belum mencukupi.

  • Melakukan perawatan dan pemeliharaan yang secukupnya

    Perawatan dan pemeliharaan di situ dapat berupa : penjemuran Murai Batu setiap hari antara jam 9-10 pagi, tidak terlalu lama sekitaran 30 menit. Pengerudungan pada sangkar Murai Batu di malam hari untuk menjaga kondisi Murai Batu agar tidak kedinginan. Dan di pagi hari kerudung dapat dibuka sampai sore hari, begitu seterusnya.

  • Beberapa penghobi meletakkan alas pada dasar sangkar Murai Batu, dengan tujuan sebagai pengalihfungsian amarahnya. Alas yang dimaksud dapat berupa kertas buku, koran, kalender, namun setiap hari alas tersebut harus diganti atau dibersihkan untuk menghindari timbulnya penyakit akibat tumpukan kotoran Murai Batu itu sendiri.

Demikianlah tips atau cara yang bisa dilakukan di saat Murai Batu milik anda mengalami kebiasaan mematuki bulunya sendiri. Kebiasaan kecil yang buruk jika dibiarkan saja kebiasaan itu juga pastinya akan mengakibatkan kecelakaan yang fatal. Namun langkah tepat yang anda lakukan dapat menghambat efek-efek negatif yang akan ditimbulkan, begitu juga terhadap Murai Batu milik anda. Semoga artikel singkat ini dapat bermanfaat bagi anda dalam menjaga kualitas Murai Batu yang lebih baik. Trims

Oleh : Roma Doni
Referensi : http:/sklbirdfarm.com/2012/08/08/tips-mengatasi-murai-batu-yang-matukin-bulu-sayapekor/
Sumber Photo : Google.com

Tuesday, July 9, 2013

Murai Batu Ekor Hitam, Spesies Murai Batu Aceh

Jenis Murai Batu yang ditemui di Aceh memiliki tipe yang seragam dengan tipe Murai Batu yang ditemukan di beberapa wilayah sekitarnya. Seperti Nias, Kepulauan Mentawai dan hampir semua pulau-pulau kecil yang ada di pantai barat Pulau Sumatera. Salah satu spesies Murai Batu yang bisa ditemukan di Aceh khususnya di daerah Pulau Simeulue yaitu Murai Batu ekor hitam.

Murai Batu ekor hitam memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Secara fisik memiliki ukuran tubuh yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan murai batu yang memiliki ekor putih.
  2. Mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga lebih mudah untuk dipelihara.
  3. Murai Batu ekor hitam lebih cepat pandai berkicau dibanding Murai Ekor putih. Hanya saja kualitas kicauannya selalu berada di bawah Murai ekor putih.
  4. Ukuran ekor bervariasi dari pendek hingga sedang. Berdasarkan ukuran panjang ekornya, Murai Batu ekor hitam dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
    • Pertama: Murai Batu yang memiliki ekor pendek (10-12 cm)
    • Kedua: Murai Batu yang memiliki ekor ukuran sedang (14-16 cm).

Kemampuan berkicau Murai ekor hitam memang tidak sebagus Murai Batu ekor putih. Sehingga jenis Murai Batu jenis ini kalah dominan oleh Murai Batu ekor putih di berbagai ajang kontes burung berkicau. Hal ini menyebabkan harga jual burung Murai Batu ekor hitam cenderung lebih murah dari pada Murai Batu ekor hitam.

Secara umum, harga burung berkicau di pasaran sangat ditentukan oleh dua faktor, yaitu:

Pertama: kualitas

Meliputi kualitas suara, bentuk paruh, hingga warna bulunya. Kualitas suara serta kemampuan berkicau menjadi faktor penting dalam menilai kualitas burung berkicau seperti Murai Batu ini. Nah, Murai Batu ekor hitam seperti sudah disebutkan pada penjelasan karakteristiknya di atas pada umumnya memiliki kualitas suara atau kicauan yang jauh lebih inferior dibanding Murai Batu ekor putih.

Kedua: tingkat kepuasan konsumen

Tingkat kepuasan konsumen terhadap burung berkicau sangat mempengaruhi harga jenis burung tersebut di pasaran. Karena, kicaumania tidak segan-segan mempromosikan kelebihan jenis burung berkicau yang dipeliharanya kepada kicaumania lainnya. Sehingga, kelebihan jenis burung tersebut cepat populer dan diminati oleh kicaumania. Hal ini dengan sendirinya menaikkan harga jenis burung berkicau tersebut.

Namun demikian, terlepas dari fakta bahwa Murai Batu ekor hitam memiliki kualitas suara kicauan yang lebih inferior dari pada Murai Batu ekor putih, namun akhir-akhir ini permintaan Murai batu di pasaran terus meningkat. Selain karena unggul di sisi harga yang cenderung lebih murah,peningkatan permintaan Murai Batu di pasaran disebabkan oleh semakin sulitnya mendapatkan Murai Batu putih. Baik di alam maupun di penangkar. Sehingga Murai batu ekor hitam kemudian menjadi alternatif pilihan bagi para hobiis.

Oleh: Neti Suriana
Referensi:
http://muraibatuaceh,blogspot.com

Tuesday, July 2, 2013

Burung Murai Batu Mengalami Rontok Bulu, Jangan Khawatir!

Ada saatnya terjadi siklus alamiah yang terjadi pada setiap burung, siklus mabung atau lebih dikenal dengan siklus kerontokan bulu. Siklus yang satu ini merupakan siklus alami yang tidak perlu terlalu dikhawatirkan namun memang perlu beberapa teknik perawatan. Apabila siklus ini terjadi pada burung Murai Batu milik Anda, bagaimanakah cara perawatannya?



Pada saat terjadi siklus mabung, burung Murai Batu mempunyai metabolisme tubuh sekitar 40 persen lebih tinggi. Apabila siklus ini terjadi maka asupan gizi berkualitas sangat dibutuhkan burung Murai Batu. Sebisa mungkin Anda harus hindari pemberian makanan yang mempunyai nilai gizi rendah.

Berikut ini tips cara merawat burung Murai Batu ketika masa mabung :

  • Letakkan sangkar atau kandang burung Murai Batu di tempat-tempat yang jauh dari keramaian. Sebisa mungkin pastikan burung yang sedang mengalami siklus mabung berada sendirian dalam sangkarnya, hindari pertemuan burung yang satu dengan burung yang lain, baik sejenis maupun tidak sejenis dan sebaiknya gunakanlah kain penutup sangkar pada sangkar burung Murai Batu yang sedang mengalami siklus mabung.
  • Rawatlah dengan baik Murai Batu yang sedang mabung dan bersihkan sangkarnya tiap hari.
  • Pada awal-awal burung mulai mengalami mabung, kurangi dulu porsi Jangkriknya dari 5 ekor pagi dan sore menjadi 2 ekor saat pagi dan sore.
  • Selama siklus kerontokan bulu, burung tidak perlu dijemur.
  • Pada awal-awal burung mulai mengalami mabung, kurangi waktu mandinya dari setiap hari menjadi seminggu sekali. Ubah waktu mandi burung menjadi jam 12 sampai jam 1 siang. sesudah mandi jangan diangin-anginkan.
  • Pada burung Murai Batu yang sedang mengalami proses siklus mabung, namun kebanyakan bulunya telah rontok, kembalikan porsi makanan seperti saat perian makanan harian. Pengembalian porsi makan sangat diperlukan bagi pembentukan sel-sel baru dan mempercepat pertumbuhan bulu baru. Contoh porsi EF : Jangkrik diberikan sebanyak 5 ekor saat pagi dan 5 ekor saat sore, Kroto 1 sendok makan setiap pagi, dan Cacing 2 ekor 3x seminggu.
  • Berikan Vitamin dan mineral pada burung Murai Batu seminggu 2 kali agar asupan gizi burung tercukupi.
  • Beri larutan Growvit dalam air minum burung secukupnya (Cukup seujung pentol korek api untuk tiap cangkir minum burung). Berikan 2 hari sekali, larutan ini baik untuk mempercepat perontokan dan pertumbuhan bulu.
  • Sesekali lakukan pemasteran terhadap Murai Batu dengan cara mengajak berinteraksi dengan suara-suara burung. hal ini disebabkan burung Murai Batu saat mengalami siklus ini lebih banyak diam.
  • Jangan sering menyentuh burung Murai Batu yang sedang mabung dan jangan sering memindah sangkarnya dikarenakan burung Murai Batu membutuhkan ketenangan saat siklus mabung.

Semoga bermanfaat bagi Anda yang hobi memelihara Murai Batu

Oleh : Zi Chaniago

Tuesday, May 21, 2013

Menyimak Tentang Murai Batu Medan



Jika ditanya jenis murai batu apa yang sering memenangi kontes maka jawabnya ialah murai batu medan. Jika pun ada menanyakan burung ocehan jenis apa yang paling banyak dipelihara oleh pecinta burung ocehan maka juga jawabnya ialah murai batu medan. Begitu menakjubkannya burung ini dari sejarah yang menuliskan tentang kepopulerannya sudah dimulai dari tahun 1990-an dan merajai pemenangan hampir seluruh kontes yang diikutinya dalam festival-festival kejuaraan burung ocehan sehingga dari itu kegemaran untuk memiliki burung ini semakin marak oleh pecinta burung ocehan. Dan burung ini menjadi ibarat raja dari burung-burung murai batu lainnya yang juga terkenal dari suara yang variatif dan murai batu medan mempunyai tarian ekor yang indah.

Murai batu medan sebenarnya bukan berasal dari Kota Medan, namun karena banyaknya burung-burung murai batu yang dari pesisir pantai dan hutan sumatera di bagian utara diperdagangkan di Medan menjadi julukan tersendiri bagi murai batu medan. Keunikan burung ini menjadi salah satu pembeda dari murai batu jenis lain yang di luar sumatera bagian utara ialah ekornya yang panjang dan berwarna bercak-bercak putih pada bulunya di bagian pangkal ekor hingga pangkal paha kaki yang mendekati pangkal ekornya. Serta brand catatan bagi murai batu medan ialah ekor panjang yang melengkung.

Dicatat ada beberapa ciri-ciri fisik yang menjadi keunikan burung murai batu medan dari murai batu lainnya ialah diantaranya:

  • Bentuk badan yang besar dari murai batu lainnya dan menunjukkan keproporsionalannya sehingga menimbulkan sikap atletis
  • Warna hitam di bulunya terlihat legam dan mengkilat namun melirik pada kepalanya campuran warna hitam dipadu dengan warna biru yang bersemburan menghasilkan paduan warna yang cantik.
  • Pada kakinya berwarna hitam kemerahan jika waktu masih muda dan jikalau sudah tua sisik kemerahan itu akan hilang dan menonjolkan warna hitam.
  • Bagi murai batu medan memiliki intonasi suara yang lebih jelas
  • Bulu ekornya jauh lebih panjang dibandingkan burung murai batu lainnya sekitar 22 – 28 cm
  • Bulu ekor agak melengkung dan semakin ke ujung ekor melebar membelah
  • Kejinakan yang dimiliki sangat cepat dari pada murai batu pada umumnya
  • Variasi kicauan terus-menerus tanpa putus hingga akhir dan juga kicauan-kicauannya dapat diulang ke intonasi yang sama pula.

Menakjubkan kesan yang timbul dari kebagusan murai batu medan yang dimilikinya dalam pembeda identitas dari murai batu pada umumnya dari beberapa jenis yang ada. Namun, perambahan hutan yang memprihatinkan dengan tidak melihat makhluk di dalamnya ikut juga burung ini terseret pusara kelangkaan ditambah pemburuan yang berlebihan di alam liar karena tergiur pendapatan yang mahal dari murai batu medan yang sudah tidak lagi diragukan keunggulannya. Bicara harga pun murai batu medan mempunyai nominal fantastis dari penawaran para pencinta burung kicau, dalam kisaran harga 750 ribu rupiah sampai 1 juta dihargai bagi burung murai batu medan yang masih anakan sedangkan untuk murai batu yang sudah bisa bunyi maka harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Menarik memang dari burung murai batu medan sehingga menjadi ladang bisnis di peternak burung ocehan untuk memperdagangkan burung ini kepada pecinta burung dari prospek keunggulan yang ditunjukkan di perlombaan burung ocehan.

Oleh : Satria Dwi Saputro
Sumber:
http://muraikicau.blogspot.com/2012/11/ciri-ciri-murai-batu-medan-lampung-dan.html
http://omkicau.com/2010/05/09/murai-batu-medan-ada-enggak-sih/#more-14851
google.com/image

Monday, May 20, 2013

Beberapa Mitos mengenai burung Murai Batu

Sebagian masyarakat di Indonesia yang masih berpegang teguh terhadap adat-istiadat dan tradisi nenek moyang kebanyakan percaya dengan adanya mitos. Pengaruh Mitos dalam kehidupan mereka cukup membawa andil dalam melakukan sesuatu. Sedikit tentang mitos, Mitos adalah sesuatu hal yang dipercayai serta dianggap menjadi suatu kebenaran sejak zaman dahulu, walau sifat kebenarannya hanya berlaku sepihak bagi mereka-mereka yang mempercayai dan meyakininya saja. Mitos-mitos yang ada juga masuk mengenai ke jenis burung kicauan yaitu burung Murai Batu. Ada anggapan dari zaman dahulu bahwa karakteristik ciri-ciri pada burung membawa arti sendiri bagi burung tersebut. Anggapan-anggapan mitos itu juga ternyata menjadi rujukan beberapa orang ketika membeli burung kicauan. Mungkin karena keeksotisan pada burung Murai Batu sehingga mitos-mitos yang ada berkembang pesat di masyarakat. Di bawah ini merupakan mitos-mitos yang ada mengenai burung Murai Batu :

  • Berkaki Hitam
    Burung Murai Batu yang memiliki kaki berwarna hitam dipercaya mempunyai jiwa mental tarung yang tinggi dan merupakan ciri burung sejati jenis ini.

  • Bertulang kaki besar
    Bahwa burung Murai tersebut tidak mudah mundur saat tempur, tidak menyerah. Tipikal pemberani.

  • Ekor bercabang
    Sifat burung payah diatur, sulit jinak. Untuk itu dibutuhkan kesabaran yang tinggi kepada pemilik burung dengan ciri Murai seperti ini.

  • Paruh tebal dan panjang
    Cenderung mengeluarkan suara-suara berdurasi pendek dan lambat tetapi dengan volume suara yang kuat (tinggi).

  • Paruh pendek dan tipis
    Kemampuan burung untuk rajin berkicau dengan suara-suara yang melengking di telinga. Cocok untuk mengisi kesunyian.

  • Paruh Celah
    Celah pada burung tersebut, dipercaya membuat burung mengeluarkan suara yang lebih besar sehingga akan terdengar mantap.

  • Kepala burung Murai berbentuk datar
    Karakter yang dimiliki tangguh dan siap untuk bertempur. Burung yang cocok untuk dibawakan dalam perlombaan karena tidak bermental takut jika bertemu lawan.

  • Mata burung Murai yang Melotot
    Sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan. Tidak sulit dipelihara sebab jiwa burung yang bermental baik.

  • Bentuk leher tebal
    Kelebihan pada volume suara yang dikeluarkan tinggi dan lebih mendominasi dari segi suara jika dibandingkan pada jenis lainnya.

  • Murai Batu bertubuh besar, berekor panjang, bulu ekor agak tebal
    Jenis ini dianggap sebagai jenis Murai batu yang mudah lelah, kecapekan. Kurang gocer dalam berkicau, tidak cocok untuk diikutsertakan lomba kicauan. Namun untuk kemolekan tubuhnya sangat enak dilihat.

  • Memalingkan wajah saat bertemu lawan
    Kepercayaan bahwa burung tersebut bermental penakut, tidak siap tempur dan tidak beringas.

Nah, point-point di atas merupakan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat mengenai burung Murai Batu. Walaupun artian-artian terhadap ciri-ciri burung Murai Batu di atas tidak dapat secara total dijadikan patokan dalam memilih burung Murai Batu yang berkualitas baik, karena itu semua hanya sebuah mitos, kebenaran yang bersifat keyakinan sebagian pihak saja. Penulis hanya menjabarkan segala mitos tentang Murai Batu yang terjadi, lebih untuk menambah pengetahuan bagi kita semua tidak hanya penghobis burung terlagi bagi para pembaca :)

Oleh : Roma Doni
Referensi : http://kicauku.com/mitos-murai-batu

Friday, May 10, 2013

Penyakit-penyakit Burung Murai Batu dan Cara Mengatasinya



Ada saatnya di mana burung-burung yang kita pelihara mengalami kondisi yang kurang baik (sakit), untuk itu sebagai pecinta burung kita juga diharuskan mengetahui gejala-gejala yang terjadi serta penanganan terhadap gejala tersebut dengan cara yang tepat. Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menimpa pada burung-burung peliharaan itu. Burung yang sehat juga tergantung dari bagaimana si pemilik merawatnya, karena apabila tidak diperhatikan dengan baik maka burung yang dipelihara akan rawan terhadap penyakit, bahkan lebih daripada itu jika si pemilik tidak mengerti mengenai penanganan terhadap burung peliharaannya yang sakit, bisa jadi burung yang dipelihara akan mengalami kematian. Itu adalah sedikit gambaran yang menjelaskan betapa pentingnya pengetahuan mengenai penanganan burung bagi seorang pecinta burung demi kelangsungan burung peliharaan itu sendiri.

Berdasarkan hal itu, penulis akan coba memaparkan tentang penyakit-penyakit burung dan cara mengatasinya, tetapi pada artikel ini apa yang akan dijelaskan penulis dikhususkan kepada jenis burung Murai Batu, dikarenakan peminat burung ini sendiri di Indonesia yang sangat banyak serta harganya yang memang mahal. Nah, Mungkin akan sangat disayangkan Murai Batu yang memiliki harga tinggi di pasaran yang telah menjadi milik anda, mati sia-sia hanya karena anda tidak mengerti gejala-gejala serta cara menanganinya. Padahal jika kita tau, penanganan terhadap burung jenis Murai Batu yang sakit juga tidak terlalu susah, bisa dengan cara alami ataupun melalui obat-obatan. Yang terpenting Adalah ketersediaan waktu anda serta keuletan anda dalam menanganinya.

Berikut penyakit-penyakit yang biasa terjadi pada burung Murai Batu dan cara menanganinya:
  • Suara burung Murai Batu yang Serak
    Penyakit ini juga sering terjadi pada burung Murai, ditandai dengan suara kicauan yang tidak jernih, tersendat-sendat, seperti ada sesuatu yang menganjal pada tenggorokan sang burung. Ada beberapa cara untuk menangani penyakit ini agar suara burung Murai merdu kembali, diantaranya : dengan meneteskan air perasaan daun lateng putih ke mata burung Murai, posisi burung diusahakan seperti menungging ketika meneteskan perasan daun lateng putih itu, agar lendir penyebab serak di tenggorokan Murai dapat keluar. Cara ini juga bisa dibarengi dengan memberi rebusan air sirih ke dalam minumnya, selain menghilangkan serak air sirih ini juga dapat dijadikan antibiotik burung murai.
  • Kutu yang terdapat pada bulu burung Murai Batu
    Jika tidak segera ditangani dengan baik, kutu-kutu ini dapat menyebabkan kerontokan bahkan kebotakan pada bulu burung Murai itu sendiri. Pastilah jika ini terjadi, keindahan pada burung Murai tersebut akan berkurang. Untuk mengatasi dan menghilangkan kutu-kutu itu anda bisa melakukan cara sebagai berikut : menggunakan air bekas cucian beras sebagai air untuk memandikan burung Murai, lakukan cara ini secara rutin karena ternyata air bekas cucian beras itu mengandung zat yang dapat menghilangkan kutu serta dapat mengkilapkan bulu burung Murai tersebut.
  • “Senot” atau pembengkakan pada mata burung Murai
    Penyakit ini bisa disebabkan karena pemberian pakan serangga yang terlalu over kepada sang burung, sehingga mata burung Murai akan mengalami pembengkakan. Biasanya juga disertai dengan mata berair. Jika tetap dibiarkan, gejala ini dapat mengakibatkan kebutaan pada burung. Cara yang dapat anda lakukan untuk menanganinya adalah dengan memperhatikan pemberian pola makan serangga pada sang burung, jangan terlalu kebanyakan, normalnya 5-15 serangga (jangkrik, ulat) per hari.
  • Bulu ekor yang lama tidak tumbuh
    Sudah jelas bahwa salah satu keunikan yang paling gampang dilihat dari seekor burung Murai adalah ekornya yang panjang. Tetapi ada problem yang terdapat pada burung Murai yaitu kadang mengalami keterhambatan pertumbuhan ekor, ini biasa terjadi sehabis masa-masa mabung (ganti bulu). Untuk mengatasinya serta melakukan percepatan terhadap pertumbuhan ekor burung Murai tersebut yaitu dengan membersihkan pori-pori ekor burung dengan air hangat, untuk menghilangkan kotoran-kotoran pada ekor burung, dilanjutkan dengan menggunakan bawang putih untuk membersihkannya. Pemberian pakan belalang kepada sang burung juga berguna dalam pertumbuhan bulu karena mengandung vitamin E, atau anda juga bisa menambahkan vitamin-vitamin yang diperjualbelikan untuk lebih mengefektifkan pertumbuhan ekor burung murai tersebut.

Itulah beberapa penyakit-penyakit yang sering dialami oleh burung Murai Batu beserta cara-cara penanganannya. Semoga penjelasan dalam artikel ini dapat membantu dalam mengupayakan burung Murai Batu yang anda miliki menjadi lebih sehat. Terima kasih :)

Oleh : Roma Doni
Referensi : http://fansburung.blogspot.com/2013/01/beberapa-cara-mengatasi-penyakit-pada.html
http://muraishinegroup.blogspot.com/2012/02/tips-mengobati-sakit-pada-murai-batu.html
Sumber Photo : google.com

Wednesday, May 1, 2013

MURAI BATU YANG PENCEMBURU - 1

Dari jaman kuda gigit besi sampai jaman kuda besi, hobi sebagian masyarakat untuk memelihara binatang piaraan tidak pernah mengalami surut malah bisa dikatakan selalu pasang. Ada berbagai macam hobi memelihara binatang yang dilakukan oleh masyarakat dari mulai binatang yang imut imut dan menggemaskan sampai binatang buas yang jika tidak hati hati bisa jadi senjata makan tuan atau minimal menggigit pemiliknya, karena member makan atau ceroboh. Karena bagaimanapun binatang tersebut telah dijinakkan namun sifat alami yang liar bisa saja muncul suatu ketika. Dari sekian banyak binatang peliharaan yang penggemarnya terus bertambah adalah jenis burung ocehan.

Banyak sebab dan alasan bagi seseorang untuk memelihara burung ocehan, ada yang karena memang warisan (bapak nya penjual burung ), biar di sayang atasan (kebetulan bos nya gemar burung ocehan) atau memang karena betul betul hobi. Namun apapun alasannya, semua pasti setuju dan sepakat tanpa harus melalui musyawarah apalagi pemungutan suara, bahwa suara burung ocehan di pagi hari dapat memberikan ketentraman dan kedamaian, di samping keindahan bagi para pencintanya. Nah, di negara indonesia yang memiliki hutan hujan tropis dari wilayah Sumatra memiliki salah satu jenis burung ocehan yang sedang naik daun (sebenarnya naik pohon atau ranting tepatnya) dan digemari oleh para hobiis burung ocehan yaitu murai batu.

Burung murai batu memiliki ciri badan hitam, kecuali di bawah badan berwarna merah cerah hingga jingga kusam. Di bagian kepala ada sedikit warna biru namun untuk murai yang berasal dari Kalimantan memiliki garis putih memanjang dari kepala hingga ekornya. Ekor burung murai cukup panjang antara 15 hingga 20 sentimeter dimana ekor tersebut akan tegak ketika sang murai merasa kaget atau pun sedang berkicau memamerkan suaranya yang merdu mendayu dayu. Di pulau Sumatra ada beberapa jenis murai batu yaitu : murai batu binjai, murai batu medan, murai batu Bengkulu dan murai batu Lampung. Malah untuk jenis murai batu Lampung ada yang berjenis super dengan ekor panjang dan agak melengkung. Selain di wilayah Sumatra ada jenis murai dari pulau Kalimantan namun jenis murai Kalimantan tersebut jarang dijadikan burung peliharaan karena suaranya tidak terlalu bagus, namun memiliki badan yang bongsor jika dibandingkan dengan jenis murai yang berasal dari pulau Sumatra.

Dari semua jenis murai batu yang berasal dari pulau Sumatra, murai batu asal Lampung dimana burung murai Lampung paling mudah di dapat selain itu juga harganya relatif terjangkau. Ada dua jenis murai batu Lampung yang di buru oleh para penggemar burung ocehan yaitu murai batu Lampung dan murai batu super. Perbedaan yang paling mencolok dari kedua jenis burung tersebut adalah dari panjang ekor yang dimiliki, dimana murai batu Lampung super memiliki ekor yang lebih panjang dan agak melengkung. Para hobiis biasanya membuat sangkar yang lebih besar agar tidak merusak dari ekor murai batu ketika beraktifitas. Saking populernya hingga banyak yang mencari, membuka peluang usaha bagi para hobiis yang sekaligus menjadi pembudidaya murai batu asal Lampung. Dagangan mereka laris manis seperti kacang goreng meskipun untuk satu ekor burung murai batu Lampung bakalan dibandrol dengan harga 750.000 rupiah hingga 1.000.000 rupiah. Namun jangan di tanya untuk burung yang mempunyai suara ngerol tembak dan sudah jadi juara harganya bisa bikin senewen dan semaput, dan bisa bisa di musuhi orang serumah karena harganya mencapai ratusan juta rupiah atau sama dengan mobil keluaran terbaru (kalo beli engga kompromi dulu apalagi sampai mengganggu anggaran belanja dapur). Begitupun dengan murai batu asal medan, menjadi pilihan bagi hobiis yang memang sudah sangat kesengsem sama burung berekor panjang dan kaki berbentuk belimbing. Selain harga bakalan burung tersebut lebih mahal di banding dengan murai batu Lampung, dimana untuk burung bakalan murai batu medan dilego dengan harga 1.000.000 rupiah hingga 1.500.000 rupiah. Sedangkan yang sudah menapaki tangga juara harganya langsung melambung tinggi di angkasa seperti harga sembako jelang bulan Ramadhan dan lebaran. Konon katanya untuk murai batu yang sudah dua kali menjadi juara harganya sama dengan sebuah mobil Mercedes bens keluaran tahun 2012. Namun hingga saat ini belum banyak hobiis yang berani mencoba mengembang biakan murai batu medan.

OLEH : DENNY SURYADHARMA

Friday, April 26, 2013

KENALI JENIS – JENIS BURUNG MURAI BATU YUK !

Burung murai termasuk salah satu burung yang cocok jadi hewan peliharaan. Sudah banyak yang tahu bahwa spesies yang bernama latin Copychus malabaricus adalah anggota keluarga Turdidae. Burung keluarga Turdidae dikenal memiliki kemampuan berkicau yang baik dengan suara merdu, bermelodi, dan sangat bervariasi. Maka tak heran bila burung yang satu ini adalah salah satu burung kebanggaan untuk di pelihara di rumah. Well, kita kenalan dulu siapa sebenarnya burung ini lebih dalam .



Scientific classification
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Aves
Order : Passeriformes
Family : Muscicapidae
Genus : Copsychus
Species : C. malabaricus
Binomial name : Copsychus malabaricus
Synonyms : Kittacincla macrura dan Cittocincla macrura

Murai Batu Berdasarkan habitatnya dapat digolongkan menjadi beberapa:

  1. Murai Batu Medan

    Ciri-ciri ekor tipis-lentur melengkung ke bawah, panjang 27- 30 cm. Variasi lagu kicauan indah & banyak, daya tempur dahsyat, mental baja dengan volume dan variasi suara di atas rata-rata. Harga bakalannya paling mahal. Burung asal dari Peg. Leuser, Bahorok masih tetap diburu oleh pecinta murai dari segala kalangan. Ternyata bukan hanya penduduk Sumatra Utara saja yang bersuara merdu , burung murai asal Medan juga lho.

  2. Murai Batu Nias.

    Ciri yang utama adalah pada bagian ekornya hitam semua, tidak ada bulu ekor warna putih dan mempunyai volume yang keras. Sering terlihat di Kepulauan Nias, Sabang. Lucunya burung yang satu ini suka minder kalau melawan burung murai berekor hitam-putih. Padahal mental untuk bertarungnya sangat kuat loh. Hitam saja juga sudah keren kok, keep singing Murai Nias

  3. Murai Batu Lahat

    Mempunyai panjang ekor 19 - 23 cm. ekornya ada tipis dan tebal. variasi suara yang banyak. Mental Bagus. Disinyalir Murai Batu yang beredar sekarang di pasar burung kebanyakan adalah murai batu lahat.

  4. Murai Batu Lampung

    Mempunyai ekor pendek 12 - 18 cm dan umumnya kaku. Mempunyai daya tempur yang bagus. Jika perawatannya benar mentalnya bisa sangat bagus. Variasi suara dasar cenderung ngeban (mengulang-ulang suara yang sama), perlu pemasteran yang baik untuk menutupi kelemahannya. Kelebihan yang menonjol saat bertanding, mempunyai stamina yang baik ( tidak mudah lelah) dalam melantunkan lagu-lagu ngerol, tonjolan (besetan) dalam waktu lama. Gaya bertarungnya tidak seindah murai batu ekor panjang yang bisa men "cambuk" ekornya. Tapi harganya kalau sudah sering menang kontes tidak kalah dengan Murai Batu lainnya. Habitatnya di sekitar hutan lampung, Baturaja hingga ke arah Palembang

  5. Murai Batu Aceh

    Mempunyai ekor panjang 19 - 29 cm. Bentuk fisik tidak terlalu besar. Mempunyai daya tempur yang dahsyat. Variasi suara banyak , panjang- panjang dan ngeroll diselingi dengan suara tembakan/besetan yang menyayat hati. angse (Piedie), peg. Seulawahsabang ,Lhoong (kab. Aceh Besar) dan Keude Bieng yang merupakan tempat Murai Batu diperoleh.

  6. Murai Batu Borneo (Kalimantan)

    Panjang ekor 8 - 13 cm. Ciri khasnya saat bertarung dengan murai lain dadanya membusung/menggelembung. Mempunyai sifat yang lebih agresif dan terkesan ngotot. Kicauannya cenderung "ngeban" ( mengulang) dan suaranya agak "mendem" (kurang kristal). Di lapangan kontes, kelas tersendiri tidak menyatu dengan Murai batu Sumatra.

Semakin bagus suara burung murai ini maka harga jualnya pun semakin tinggi. Namun perlu disayangkan populasi burung murai di alam bebas atau habitat aslinya menjadi berkurang dikarenakan lebih diutamakan sebagai barang jual beli. Kasihan sih jadi tidak bisa sebebas seharusnya, Namun untuk pecinta burung pasti mereka bisa merawatnya dengan baik

Oleh : Alfiani Ratnaningtyas

Tuesday, April 23, 2013

Tips Memilih Bakalan Burung Ocehan

Burung ocehan yang ada di pasaran beraneka jenis dan habitatnya……
Maka dari itu kita diharuskan dapat membedakan jenis burung, baik local maupun asing khususnya bagi mereka yang hobis dengan burung maupun yang masih awam akan pengetahuan sekilas burung.

Sebelum memilih burung ocehan sangat di anjurkan untuk mengenali jenis burung yang akan di pelihara, yaitu dengan mengetahui di mana habitat burung itu sendiri, apa makanannya, bagaimana keindahan bulunya serta apa jenis kelaminnya dan masih banyak lagi tentunya ciri dari pada burung ocehan.

Untuk jenis burung bakalan liar, lebih memiliki vocal suara yang banyak dari pada jenis bakalan hasil penangkaran. Berikut adalah ciri-ciri burung di lihat dari bentuk fisiknya, kelamin dan makanannya :

A. Burung Kacer;

Jenis kacer jantan
  • memiliki panjang tubuh ± 20cm,
  • memiliki warna hitam biru mengkilap di kepala dada dan punggung, bulu sayap
  • hitam dengan kombinasi putih di bagian sayap
  • Jenis makanan serangga, cacing sawah, sedikt buah dan voer

Jenis Kacer Betina;
  • Panjang tubuh lebih pendek dari pada burung jantan
  • Kombinasi warna dan letaknya sama
  • Warna bulu Betina terlihat kusam (Tidak mengkilap)
  • Jenis makanan serangga, cacing sawah, sedikt buah dan voer


B. Burung Murai Batu

Ciri ciri Burung murai Batu;

Ada 2 kelompok Murai yang banyak di minati pemiara burung yaitu ;
“murai Lampung dan murai Medan”
Perbedaan dari keduanya hanya terletak pada ekornya yang panjang untuk murai medan dan ekor pendek untuk Murai Lampung

Jenis Murai Jantan;
  • panjang tubuh ± 18 cm
  • panjang ekor bisa sampai 20 cm
  • Bulu di punggung, dada, kepala berwarna hitam berkilau
  • Bagian bawah dada dan badan berwarna coklat ke merahan
  • Bagian punggung mendekati ekor biasanya berwarna putih
  • Jenis makanan serangga, kroto, cacing dan ulet serta voer


Jenis Murai Betina;
  • anjang tubuh lebih pendek dari pada si jantan
  • warna bulu pada bagian atas dan bawah dada cokelat buram
  • Jenis makanan serangga, kroto, cacing dan ulet serta voer


Cara Melatih Burung ( Murai Batu )

Ada beberapa tahapan untuk membuat murai batu cepat berkicau yaitu dengan beberapa cara ;

A. Dengan cara menjinakannya

Tempatkan burung di lokasi yang agak ramai, buat gantungan burung tidak terlalu tinggi agar cepat beradaptasi. Namun ada beberapa hal yang perlu di hindari antara lain;

  • Jangan memaksakan murai batu masuk ke tempat mandi
  • jangan menyiram/menyemprotkan murai yang tidak mau mandi
  • Jangan mengganti makanan dan minuman selagi murai masih ada di dalam sangkar
  • Jangan mengejutkan murai dengan suara yang keras karena akan membuat burung ini stress.
  • Tidak mendekatkan burung piaraan lain sebelum burung murai tersebut di pastikan jinak.


B. Melatih Mental Burung

Perawatan dan latihan yang intensif akan mempengaruhi sekali perkembanagn vocal burung, melalui cd mastering sangat membantu sekali si burung tersebut mengadopsi vocal yang sangat kombinasi sehingga kelak burung akan memiliki banyak variasi suara.

Selain itu dengan membiasakan burung berpindah dari lokasi gantungannya ke tempat lain akan membuat burung mudah adaptasi dengan lokasi burung sebab dengan perpindahan lokasi tersebut maka akan mengurangi tingkat stress burung ketika akan di bawa ke medan perlombaan.

Biasakan makanan di berikan langsung dengan tangan, karena cara ini di percaya mampu menjinakan burung dengan pemiliknya di barengi dengan pemberian makanan hidup seperti ulat hongkong, kroto, jangkrik atau cacing dll. Setelah di beri makanan alami, kemudian biasakan sangkar di goyang-goyang perlahan-lahan setiap kali dan berulang kali sambil bersiul-siul.

Selamat Mencoba

Oleh : Muhammad Riyadi

http://seputar-infoburung.blogspot.com/2010/08/tips-memilih-bakalan-burung-ocehan.html